Mahasiswa Pariwisata, Adilah Ata Nazima, Menjadi Volunteer di Ajang Asian Games 2018

"Mohon maaf, tiket festival untuk hari ini sudah habis, sesaat lagi gerbang akan kami tutup" Teriak seorang steword menggunakan toa yang digenggamnya.
Padahal malam itu jarum jam sudah menunjukan waktu pukul 19.45 WIB, tapi antrian manusia masih saja mengular.
"Iya Ibu mohon maaf, tiket pertandingan maupun tiket festival hari ini sudah habis, Ibu boleh kembali lagi esok hari" dengan sangat ramah seorang volunteer berusaha menerangkan.
"Hmmm oke baiklah"
Di sudut lainnya, terlihat seorang volunteer sedang mematung tak berdaya, dibentak dan dimaki oleh seorang pengunjung yang tak ikhlas menerima kenyataan
"Aduh mbak, gimana sih, informasinya harusnya lebih jelas dong.Katanya penjualan tiket sampai jam 7 malam ini belum jam 7 malam loh, harusnya tiketnya restock " teriak salah seorang pengunjung kepada seorang volunteer.
"Hmmm saya cek online tiket sudah sold out" jawab wanita asing itu.
"Kalau begitu nonton pertandingalain saja, bisa cek di tiket box, di sekitar gate Barat”
"Saya maunya nonton sepak bola, anda bisa bantu saya untuk kesana ? Boleh saya pinjam AD Card anda? Nanti saya bayar" tambahnya.
"Mohon maaf kalau itu saya tidak bisa bantu"
Ya. !! Itulah kondisi-kondisi yang harus kita hadapi sebagai volunteer ticketing. Suatu waktu harus berkonflik dengan hati sebab terpaksa harus menolak orang tak bertiket yang juga ingin merasakan kemeriahan Asian Games , teriris relung jiwa saat harus menatap raut wajah yang sedih, kecewa dan marah.
Dalam kondisi lain, keikhlasan dan ketabahan harus selalu tertanam dalam diri saat berpuluh-puluh kali volunteer menjadi garda terdepan dalam menerima setiap caci maki, ucapan kasar hingga hinaan yang tak berkesudahan. Tapi inilah bagian daripada cerita indah Asian Games 2018, komitmen kami untuk turut serta mensukseskan event terbesar se-Asia ini tak perlu diragukan lagi. Nominal Rupiah tak lagi menjadi soal bagi kami, lagipula saat pertama kali ditanya "mengapa ingin menjadi volunteer?" Jawaban saya adalah "karena saya bukan atlit". Jelas sudah bahwa sejak awal komitmen kami adalah bahu membahu bersama-sama dengan atlit dan pihak lainnya mengalirkan keringat untuk nama baik bangsa.
Tim yang tiada hari Tanpa ada masalah
Tiada hari tanpa evaluasi
Tiada hari tanpa pulang malam
Tiada hari tanpa sabar
Kini semua itu telah berakhir, segala peluh keringat yang telah kita tumpahkan terjawab dengan sebuah prestasi. Indonesia memantapkan diri pada posisi ke-4, banyak pujian yang mengalir atas kesukseskan pelaksanaan, dan yang paling penting seluruh bangsa Indonesia selama pelaksanaan Asian Games ini bersatu dalam satu barisan yang tak tergoyahkan, para elite bangsa saling berpelukan dibalik panji-panji pusaka negara, para pemeluk agama dengan nyaman melaksanakan kewajiban ritual pertemuannya dengan tuhan, keseharian bocah-bocah kecil dihiasi keakraban orang-orang tua.
Satu saja harapan kami, boleh saja Asian Games pergi dari Indonesia, namun biarkanlah kemesraan dan Integrasi bangsa yang tersaji saat ini tetap tinggal di Indonesia untuk selamanya, sudah lelah bangsa ini terpolarisasi oleh perbedaan pilihan politik.
Malam ini, kami sama-sama meneteskan air mata kebanggaan, kita bangga menjadi Indonesia, kita bangga menjadi Indonesia, Kita bangga menjadi Indonesia..
Selamat Jalan Asian Games 2018