Mahasiswa Pariwisata, Ursulla Mariska Maduma Silaban, Menjadi Volunteer di Ajang Asian Games 2018 (2)

Asian Games pertama kalinya diselenggarakan pada tahun 1951 di New Delhi, India. Indonesia sendiri tercatat telah dua kali menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962 dan tahun 2018 yang baru saja dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya dari 17.000 volunteer yang dibutuhkan untuk membantu menyukseskan event olahraga terbesar di Asia ini, saya terpilih menjadi salah satu bagiaannya. Tapi perlu diketahui untuk menjadi seorang volunteer tidaklah mudah. Penuh perjuangan dan prosesnya panjang. Kita dituntut sabar dan harus pintar-pintar membagi waktu.
Saat pembukaan pendaftaran volunteer Asian Games 2018 saya sempat ragu, banyak pikiran-pikiran yang membuat enggan untuk mendaftar. Mulai dari mengurus berkas yang lumayan banyak, ditambah saya yang seorang mahasiswa tingkat akhir harus menyusun skripsi, kalau lolos nanti gimana skripsi saya, pasti bakalan jadi lama lulusnya ? posisi saya yang juga diluarkota Jakarta tepatnya di Bali, membuat ragu bagaimana mencari biaya untuk berangkat ke Jakarta, syukur kalau lolos kalau tidak lolos gimana ? ahhh banyak banget. Akan tetapi hati kecil saya terus mengatakan untuk tetap mencoba.
 Singkat cerita saya pun dinyatakan lolos semua tes mulai dari adminitrasi, wawancara dan psikotes. Setelah lolos tes bukan berarti tantangannya berakhir. Saya harus menjalani rentetan training sebanyak 3 kali dan mau tidak mau saya harus ke Jakarta sebanyak 3 kali juga. Keraguan pun mulai mendatangi saya kembali, Bagaimana biaya untuk pulang balik ke Jakartanya ? Skripsi apa kabar?. Tetapi Tuhan itu memang Maha Baik, semuanya diberikan bahkan lebih dari apa yang saya inginkan. Meski sedikit membebani keluarga dan sanak saudara saya, mereka selalu mendukung dan membantu dengan membiayai segala keperluan menjadi volunteer Asian Games ini. Yang awalnya saya berpikir skripsi saya mungkin tidak akan selesai sampai akhir tahun tapi ternyata dua-duanya bisa saya raih. Saya bisa melaksanakan sidang dua minggu sebelum saya memulai tugas saya sebagai volunteer.
Selama menjadi volunteer Asian Games banyak pengalaman yang saya dapatkan. Sempat kecewa karena tidak ditempatkan di venue yang saya inginkan yaitu di Gelora Bung Karno, tetapi mungkin memang tempat terbaik yang dipilihkan Tuhan buat saya yaitu di Subang Jawa Barat, saya tetap menerimanya dengan sukacita. Saya berkesempatan untuk bergabung di divisi Sport, Medal Ceremony and Sport Presentation cabang olahraga Cycling. Tugas divisi sport ini sendiri adalah menjadi pendamping negara-negera di venue. Pada saat itu saya bertugas mendampingi negara Chinesse Taipei. Mendampingi negara Chinesse Taipei sangat menyenangkan, orang-orangnya cukup mandiri dan persiapan mereka juga sangat matang sehingga tidak banyak minta ini-itu. Akan tetapi kesulitannya, hanya sedikit orang-orangnya yang bisa berbahasa Inggris sehingga kerap kali saya dan mereka berbicara dengan bahasa tubuh.
Melaui Asian Games ini saya pun dipertemukan dengan teman-teman baru. Meski baru kenal dan dari latar belakang daerah yang berbeda-beda kita dapat bersatu dan bekerjasama dengan baik demi menyukseskan Asian Games. Kami belajar banyak hal mulai dari kerjasama tim, komunikasi yang baik, kepercayaan, kepedulian, yang biasanya susah bangun pagi diajarkan bangun bahkan dari jam 2 subuh karena harus ngantri kamar mandi yang hanya satu sedangkan satu rumah kurang lebih berisi 15 anak, ngasah conversation English juga karena banyak ketemu orang-orang dari berbagai negara di Asia.
Namun lagi-lagi akhir dari sebuah pertemuan adalah perpisahan. Tak satupun sesuatu di dunia ini berakhir dengan kekekalan. Well, sebelum tulisan ini berakhir. I would like to say thankyou for Asian Games 2018, INASGOC and my team Sport, Medal Ceremony and Sport Presentation especially Cyling Subang for giving me such a beautiful experience became volunteer and giving me an unforgettable moment. I’m so grateful to serve my country and being part of this history. And then the 18th Asian Games is already done, but may the energy of Asia will still remain.