FPAR Unud Laksanakan Pengabdian Masyarakat di Desa Ngadirejo: Perkuat Daya Saing dan Inklusivitas Pelaku Wisata Jeep Bromo

`

NGADIREJO, PROBOLINGGO – Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (FPAR Unud) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dan Penelitian Lapangan di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Jumat (21/11/2025). Kegiatan bertema “Pemberdayaan Masyarakat Lokal bagi Pelaku Wisata Jeep yang Berdaya Saing dan Inklusif di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru” ini merupakan upaya strategis untuk memperkuat kapasitas, profesionalisme, serta tata kelola usaha wisata Jeep di kawasan Bromo.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FPAR Unud, Dr. I Wayan Suardana, S.ST.Par., M.Par.; Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Yayu Indrawati, S.S., M.Par., Ph.D.; perwakilan dosen dan pegawai FPAR Unud; Kepala Desa Ngadirejo, Anang Budiyono; perangkat desa; pelaku wisata Jeep; serta perwakilan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Desa Penyangga Bromo dan Tantangan Penguatan Tata Kelola Wisata

Sebagai desa penyangga kawasan wisata Gunung Bromo, Desa Ngadirejo memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata alam berbasis masyarakat. Namun, sektor wisata Jeep di desa ini masih menghadapi sejumlah tantangan strategis, seperti belum tersusunnya standar layanan yang baku, lemahnya kelembagaan komunitas, serta perlunya peningkatan kualitas pelayanan yang aman, profesional, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Dekan FPAR Unud menegaskan bahwa kegiatan pengabdian ini merupakan wujud implementasi Tri Dharma perguruan tinggi. Ia juga menyoroti kedekatan historis dan budaya antara Bali dan masyarakat Tengger, terutama dalam proses transformasi dari sektor agraris menuju pariwisata. Kepala Desa Ngadirejo turut menyampaikan apresiasinya dan berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kapasitas para pelaku wisata Jeep, pemandu kuda, dan pedagang asongan untuk beradaptasi dengan dinamika pariwisata Bromo yang semakin kompetitif.

Materi 1 - Profesionalisasi Wisata Jeep dan Standar Layanan yang Aman & Inklusif

Sesi materi dipandu oleh dosen Program Studi Sarjana Pariwisata, I Gusti Agung Pradnyadari, S.Pd., M.Sc., dan menghadirkan narasumber Dr. I Made Bayu Ariwangsa, S.S., M.Par., M.Rech., ahli dalam bidang pariwisata petualangan.

Dalam paparannya, Bayu Ariwangsa menjelaskan bahwa wisata Jeep Bromo bukan sekadar aktivitas mengantar wisatawan menuju titik sunrise, tetapi merupakan sistem pelayanan petualangan yang kompleks, meliputi:

  • manajemen armada,

  • mitigasi risiko serta keselamatan berkendara,

  • penciptaan pengalaman wisata (experience staging),

  • efisiensi waktu tunggu, dan

  • reputasi destinasi secara keseluruhan.

Ia menegaskan pentingnya penerapan SOP yang konsisten, prinsip zero tolerance for unsafe driving, serta layanan yang inklusif, ramah bagi anak, orang tua, perempuan, hingga penyandang disabilitas.

Materi 2 - Gastronomi dan Potensi Kuliner Lokal sebagai Daya Tarik Wisata

Materi kedua disampaikan oleh I Nyoman Tri Sutaguna, S.ST.Par., M.Par., yang membahas “Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengolahan Potensi Lokal sebagai Daya Tarik Wisata.”

Ia menyoroti bahwa komoditas pertanian utama Desa Ngadirejo, seperti kentang, masih dijual dalam bentuk gelondongan tanpa pengolahan nilai tambah. Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), teknologi pengolahan, pengemasan, pelabelan, dan strategi pemasaran yang tepat diyakini mampu mengubah potensi lokal menjadi produk unggulan kuliner yang mendukung pengembangan wisata dan memperkuat ekonomi masyarakat.

Dialog Masyarakat: Aspirasi, Tantangan, dan Evaluasi Bersama

Pada sesi diskusi, salah satu warga, Simon, menyampaikan bahwa wisata Bromo selama ini cenderung bersifat transit sehingga wisatawan tidak tinggal lama di desa. Ia menanyakan strategi untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan serta cara memperkenalkan kue khas desa, Rambutan, yang masih kurang dikenal.

Kepala Desa yang juga merupakan pelaku wisata Jeep menjelaskan bahwa masyarakat mengoperasikan 18 armada Jeep dan 30 ojek motor. Meskipun sebagian armada merupakan produksi tahun 1980-an, warga tetap menjaga keselamatan melalui pemeriksaan kendaraan mandiri sebelum operasional, selain runcheck rutin dari Dinas Perhubungan setiap enam bulan. Ia menegaskan perlunya evaluasi waktu operasional tur yang dimulai pukul 03.00 dini hari, serta pentingnya memperkuat kelembagaan komunitas Jeep dan integrasinya dengan pengembangan kuliner lokal.